Kesenian Tradhisional
᭵

 

28 Dagelan Mataram 02

BBerkiblat pada cerita-cerita Babad Tanah Jawa serta cerita tentang kehidupan kraton lainnya, Ketoprak mengetengahkan imitasi dan kehidupan kraton yang diceritakannya. Di antaranya juga tentang adanya para abdi dalein, lengkap dengan segala tugas yang harus dikerjakannya untuk para bendara. Para bendara umurnnya adalah tokoh-tokoh utama dan cerita yang dibawakan. Para abdi dalem dalam kraton sesungguhnya mempunyal tugas sebagai penasehat pada saat bendaranya mengalami kesulitan, memberi pelayanan untuk memenuhi segala kebutuhan sang bendara serta sebagai penghibur atau penglipur lara ketika bendaranya sedang bersedih.
Perbedaannya adalah, kalau pada kraton yang sesungguhnya para abdi dalem itu terdini dari banyak orang dan mempunyai bidang tugas sendiri sendini, dalam Ketoprak abdi dalemnya cuma terdiri dan satu dua orang dengan tugas rangkap. Abdi dalem ini untuk tokoh lain-lain di sebut punokawan, sedang untuk tokoh wanita disebut emban. Dalam pertunjukan Ketoprak, acara humor dan lelucon-lelucon disampaikan oleh pembawa peran punokawan atau emban. Pembawa peran emban ini dulunya selalu laki-laki, kemudian seiring dengan kemajuan jaman, wanita mulai memerankannya.
Pada mulanya, lelucon-lelucon Ketoprak itu merupakan bagian atau unsur yang terlibat dalam ceritera, sesuai dengan jalan ceritanya. Selanjutnya, untuk memperbesar kadar hiburan dan pertunjukannya dan dalam rangka persaingan antara rombongan Ketoprak, acara lelucon mulai diberi porsi yang lebih besar, bahkan ada yang disendirikan. Sekitar tahun 1935, rombongan Ketoprak keliling dari Yogyakarta yang bernama "Mardi Wandowo", selalu menyelenggarakan pertunjukan khusus lelucon sebelum pentas Ketoprak dimulai. Pertunjukan seperti ini juga disebut dagelan.
Mardi Wandowo memberi nama pertunjukan dagelannya itu "Ketawa Sebentar". Acara ini ditiru juga oleh rombongan Ketoprak lainnya, seperti Kertonaden, Mudo Utomo, Krido Mudo, Krido Raharjo dan sebagainya.
Oleh para penonton, acara dagelan itu disebut sebagai acara pertunjukan ekstra. Oleh karena nama rombongan Ketoprak lainnya, seperti Kertonaden, Mudo Utomo dan lain-lainnya muncul dan rasa kebanggaan daerah, seperti halnya dagelan Mataram yang disiarkan oleh MAVRO, maka kelompok dagelan diumurnkan pula dengan nama Dagelan Mataram.
Tokoh dagelan yang muncul dari kalangan ini antara lain Basiyo, Ranu Domble, Cokro Supang, Joyo Blendang, Darsono dan jauh kemudian ada Bu Tik. Bu Tik inilah wanita yang pertama kali memerankan tokoh emban.
Sementara itu Dagelan Mataram yang disiarkan melalui MAVRO tetap berjalan terus secara rutin. Untuk membedakan diri dengan Dagelan Mataram diluar MAVRO, perkumpulan ini diberi nama "Dagelan Mataram Barisan Kuping Hitam". Nama "Kuping Hitam" diambil dan ciri Den Bekel Tembong (RB Lebdojiwo) yang telinganya berwarna hitam karena ada tembong-nya.
Peristiwa mi terjadi di sekitar tahun 1938. Anggota kelompok ini kemudian bertambah menjadi Den Bekel Tembong, Den Karto Musito, Den Jayeng Suwandi, Karto Togen, Atmonadi, Notopurpoko dan Pardi Cokrosastra sebagai ketuanya.
Dagelan Mataram "Kuping Hitam" ini terus mengadakan siaran. Dari sekedar selingan pada acara uyon-uyon gending Jawa, porsinya lambat laun meningkat sampai tiap siaran membawakan cerita-cerita tertentu, dengan gending Jawa tampil sebagai pengiring (ilustrasi) dan sebagai selingan antar adegan yang berlangsung.
Ketika tentara Jepang datang mengusir Belanda, siaran Dagelan Mataram "Kuping Hitam" tetap berlangsung melalui radio yang kemudian dikuasai oleh Jepang.
Siaran mereka terus berlangsung pula sampai masa permulaan kemerdekaan dan kemudian melalui Radio Republik Indonesia yang baru saja lahir (1945). Akhirnya pendiri dan anggota "Dagelan Mataram Barisan Kuping Hitam" menjadi Unit Kesenian Jawa RRI Yogyakarta.
Unit Dagelan Mataram ini kemudian terus dipelihara sampai saat ini dan dimasukkan Seksi Kesenian Daerah.
Nama "Kuping Hitam" bagi rombongan Dagelan Mataram RRI ini dipertahankan sampai tahun 1952. Kemudian rombongan ini cukup dikenal sebagai "Dagelan Mataram RRI Yogyakarta".
Pada masa Proklamasi Kemerdekaan 1945 - 1946, tokoh teater Usmar Ismail bersama Djayakusuma, membentuk rombongan sandiwara berbahasa Jawa - Indonesia, untuk menghibur para pejuang, sekaligus juga berfungsi sebagai penerangan dan membangkitkan semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan. Sandiwara ini kemudian diberi nama SRI, kependekan dan Sandiwara Rakyat Indonesia.
Dengan tujuan yang sama, atas prakarsa Mas Bei Jogoyono (Sindusastrowiyon) dikumpulkanlah beberapa pendagel dan dibentuklah sandiwara Dagelan "Cabe Lempuyangan". Sementara itu, Jawatan Penerangan Republik Indonesia yang baru lahirpun, memiliki unit penerangan yang bersifat humor dengan memakai mobil unit berpengeras suana yang bergerak dari tempat ke tempat dimana banyak orang berkumpul. Unit ini menamakan diri "Rasogel" (Radio Sonder Gelombang).
Sandiwana "Cabe Lempuyangan", selanjutnya dipergunakan oleh Jawatan Penerangan untuk memperkuat unit Rasogel. Sandiwara ini pun kemudian berkembang dan yang semula hanya obrolan-obrolan biasa menjadi bentuk permainan (1948).
Pertunjukannya dilakukan di atas mobil unit, dengan iringan gamelan dari piringan hitam (grama phone) yang listriknya diambil dan mesin diesel yang dibawa ke mana mana.
Pemain-pemainnya semula adalah pria semua, jika ada peran wanita, yang memainkan terpaksa pria. Ketika pemain Ketoprak radio "Rahardjo" yang bemama Siti Hasiyah diminta bergabung ke Rasogel (1950), barulah ada pemain wanita dalam rombongan sandiwara dagelan Jawatan Penerangan ini.
Pemain wanita ini kemudian hari terkenal dengan nama Bu Tik. Pemain-pemain dagelan pada waktu itu antara lain Sastro Siwi, Rahmat, Kasiman, Darsono, Sismadi dan Bu Tik. Pada tahun 1957 ke dalam rombongan ini ditambahkan seorang pemain kendang terkemuka, yang juga merupakan salah satu tulang punggung Dagelan Sri Mulat di Surabaya, bernama Hardjo Gepeng. Penambahan ini dilakukan karena beberapa pemain sandiwara Japen ditugaskan di Riau untuk menghibur di sana. Unit sandiwara dagelan dalam Jawatan Penerangan Yogyakarta terus dipertahankan sampai saat ini (th. 1980).
Pemain-pemainnya diangkat sebagai pegawai yang mendapatkan gaji setiap bulan. Unit ini sekarang bernama Dagelan "Gudeg Yogya".
Di samping mengisi siaran rutin di RRI, Dagelan Mataram Bekel Tembong pun giat menyelenggarakan pertunjukan di luar. Rombongan ini sangat disegani dan dihormati oleh rombongan-rombongan dagelan lainnya serta dianggap sebagai senior di kalangan mereka.


 kds penutup
wangsul-manginggil

william hill зеркало сайтакастрюля казанлобановский харьков

Kaca Ngajeng

IKON KIDEMANG 2016 A

ikon-buku-tamu
ikon-penanggalan
ikon-piwulang-kautaman
ikon-puspawarna
 ikon-pasinaon
 ikon-referensi
 ikon-naskah-kuno
 ikon-cerkak
 ikon-kesenian
 ikon-galeria
 ikon-kendhang
 ikon-lelagon
 ikon-resep-masakan
 ikon-download

Link Sutresna Jawa

kongres-bahasa-jawa
candi-diy-jateng
sejarah-medang

    Jumlah Pengunjung

6977255
  Hari ini     :  Hari ini :18
  Kemarin     :  Kemarin :94
  Minggu ini   :  Minggu ini :229
  Bulan ini   :  Bulan ini :1831
Kunjungan Tertinggi
08-21-2016 : 1963
Online : 16

Kontak Admin.

email-kidemang